Buku Tanpa Kata

kekuatan narasi visual dalam mengarsipkan cerita

Buku Tanpa Kata
I

Bayangkan kita sedang berjalan di lorong perpustakaan tua, lalu menemukan sebuah buku tebal bersampul debu. Kita membukanya, berharap menemukan deretan kalimat epik yang magis. Tapi ternyata, halamannya kosong dari huruf. Tidak ada bab pendahuluan. Tidak ada dialog. Hanya ada gambar demi gambar yang membentang dari ujung ke ujung. Reaksi pertama kita mungkin bingung. Bagaimana cara membaca buku yang bisu? Apa gunanya sebuah buku tanpa kata-kata? Dulu, saya pikir buku semacam ini hanya alat bantu untuk balita yang belum bisa mengeja. Tapi ternyata, kita sedang berhadapan dengan salah satu teknologi pengarsipan cerita paling purba dan paling canggih yang pernah diciptakan manusia. Mari kita bongkar bersama mengapa keheningan visual ini justru bisa berteriak lebih kencang dari ribuan teks.

II

Untuk memahami keanehan ini, kita perlu mundur sedikit ke puluhan ribu tahun yang lalu. Jauh sebelum nenek moyang kita menciptakan alfabet, mereka sudah gila cerita. Buktinya ada di dinding gua Lascaux atau Leang-Leang. Mereka menggambar banteng, babi rusa, dan cap tangan. Otak manusia purba tidak berevolusi untuk membaca huruf kapital atau tanda baca. Secara biologis, kita adalah makhluk visual. Sekitar 50 persen dari korteks serebral kita—bagian luar otak yang keriput itu—didedikasikan penuh untuk memproses informasi visual. Ketika kita membaca teks, otak kita sebenarnya harus bekerja dua kali lipat. Ia harus menerjemahkan simbol-simbol abstrak berupa huruf menjadi suara di kepala kita, lalu mengubahnya lagi menjadi makna. Sebuah proses decoding yang melelahkan. Sebaliknya, gambar adalah bahasa ibu peradaban kita. Inilah mengapa buku tanpa kata sebenarnya menarik tuas evolusi kita yang paling dalam. Tapi, muncul satu pertanyaan yang lumayan mengganggu pikiran.

III

Kalau bahasa tertulis adalah puncak kecerdasan kita sebagai spesies Homo sapiens, mengapa hari ini banyak seniman dan penulis modern justru sengaja membuang kata-kata? Mengapa mereka repot-repot menyusun ratusan ilustrasi rumit untuk menceritakan sesuatu yang mungkin bisa diketik cepat dalam tiga paragraf? Coba kita ingat sebuah karya legendaris dari seniman Shaun Tan yang berjudul The Arrival. Buku ini menceritakan pengalaman seorang imigran yang pindah ke dunia baru yang sangat absurd. Sepanjang buku tebal itu, tidak ada satu pun teks. Sebagai pembaca, kita dibiarkan tersesat. Kita merasa asing, bingung, sekaligus takjub melihat monster terbang atau bahasa asing fiktif di lembaran halamannya. Kita dipaksa menebak-nebak apa yang sedang dirasakan sang tokoh utama. Di titik inilah, terjadi sebuah fenomena psikologis yang sangat brilian di dalam kepala kita. Tanpa kita sadari, otak kita sedang meretas dirinya sendiri.

IV

Inilah rahasia terbesarnya, teman-teman. Dalam ilmu saraf kognitif dan psikologi perkembangan, ada konsep yang disebut Theory of Mind. Ini adalah kemampuan kita untuk memahami bahwa orang lain memiliki emosi dan niat yang berbeda dari kita. Ketika kita membaca novel biasa, penulis menyuapi kita dengan informasi. Penulis akan menulis, "tokoh utama merasa hancur dan kesepian." Otak kita menerima itu secara pasif. Tapi, ketika kita berhadapan dengan buku tanpa kata, tidak ada narator yang menuntun kita. Otak kita secara alami membenci kekosongan informasi atau cognitive gap. Jadi, apa yang dilakukannya? Otak visual kita langsung menyambungkan sinyal ke amigdala, yaitu pusat emosi dan memori. Kita terpaksa membongkar arsip ingatan kita sendiri. Kita mengisi kebisuan tokoh di gambar itu dengan pengalaman sedih kita, ketakutan kita, dan harapan kita sendiri. Secara neurologis, batas antara kita sebagai pembaca dan tokoh di dalam buku pun melebur. Kita tidak lagi sekadar membaca cerita; kita menjadi penulis pendamping dari cerita tersebut. Arsip memori visual ini menempel jauh lebih kuat di otak karena ia menuntut empati tingkat tinggi yang diaktifkan secara mandiri.

V

Pada akhirnya, buku tanpa kata menyadarkan kita pada sebuah ironi yang indah. Di era sekarang, kita dibombardir oleh miliaran teks, opini, dan komentar di layar gawai setiap detiknya. Kata-kata perlahan menjadi bising dan kadang kehilangan maknanya. Kita sering lupa bagaimana cara benar-benar memperhatikan. Narasi visual menawarkan jeda yang sangat kita butuhkan hari ini. Ia mengajak kita untuk diam sejenak. Ia tidak menceramahi kita. Buku-buku bisu ini mengarsipkan cerita kemanusiaan dengan cara yang paling universal, melampaui sekat bahasa ibu, usia, dan latar belakang budaya. Mungkin, lain kali jika teman-teman menemukan buku tanpa teks, cobalah luangkan waktu untuk sungguh-sungguh "membacanya". Biarkan keheningannya bercerita, dan bersiaplah tersenyum saat menyadari bahwa cerita yang paling menyentuh hati justru adalah cerita yang ditulis oleh memori kita sendiri.